|
Kerusuhan
di Rumah Pastur Rafael Terjadi Karena Dendam 02-18-2003 -- Tempo Interaktif TEMPO Interaktif, Jakarta: Penyerangan massa prointegrasi terhadap massa prokemerdekaan yang mengakibatkan terjadinya bentrokan dan kerusuhan di rumah pastur Rafael Dos Santoz pada 6 April 1999 lalu, terjadi akibat adanya rasa dendam. Hal tersebut diungkapkan Dodi Haryadi, psikolog dan guru besar Universitas Padjadjaran, Bandung, saat menjadi saksi ahli dalam sidang lanjutan perkara pelanggaran HAM berat dengan terdakwa mantan Panglima Kodam Udayana Mayjen Adam Damiri di pengadilan ad hoc HAM Jakarta Pusat, Selasa (18/2 ) siang. Latar belakangnya, massa prointegrasi emosi karena adanya kekecewaan dan rasa dendam. Secara historis, keduanya memang telah bermusuhan, kata Dodi. Dodi melihat kekecewaan massa prointegrasi tersebut juga dipicu oleh bersembunyinya tokoh prokemerdekaan Jasinto Da Costa Perreira. Beberapa waktu sebelumnya, Perreira diduga melakukan penculikan anak pegawai negeri di Liquica dan melakukan pembakaran rumah-rumah. Massa prointegrasi cemburu karena massa prokemerdekaan bersembunyi di bawah perlindungan Rafael, katanya. Mengenai terjadinya bentrokan tersebut, Dodi mengatakan massa yang berkumpul memiliki emosi kolektif. Pada dasarnya karakteristik massa yan emosi biasanya irrasional, destruktif, dan brutal. Individu yang mengalami kekecewaan dan kesedihan disebut berada dalam kondisi yang frustasi, sehingga dapat menjadi perilaku agresi, kata Dodi dalam sidang yang dipimpin Emmy Marni Mustafa tersebut. Kemungkinan jatuhnya korban, lanjut Dodi, akan selalu ada. Pasalnya, perilaku massa yang sudah emosi, bisa merusak apa saja demi melampiaskan emosi kolektif. Faktor tujuan sudah tidak relevan lagi, ujar dia. Untuk mengatasi perilaku massa seperti itu, Dodi mengatakan, ada tiga komponen yang sangat menentukan. Pertama, kuantitas, di mana jumlah aparat harus sepadan agar secara psikologis mampu menghentikan ketegangan yang terjadi. Kedua, sarana peralatan yang digunakan harus memadai. Ketiga, metode dan teknik harus tepat. Jika jumlah
dua massa yang saling berhadapan itu besar, menurut Dodi, jumlah petugas
keamanan seharusnya juga besar. Hal tersebut penting agar sepadan dengan
massa yang dihadapi. Dia juga menganggap peran aparat sangat diperlukan
karena kondisi massa rawan untuk menjadi brutal kembali. Tujuannya,
agar emosi kolektif massa kembali diubah menjadi identitas pribadi,
katanya. (Sam Cahyadi Tempo News Room)
|