Mantan Komandan Milisi Saka Loromonu Batugade
Dihukum 7 Tahun Setelah Mengaku Bersalah Atas Pembunuhan Sebagai
Kejahatan Terhadap Kemanusiaan
Pada jam 9:00am tanggal 17 Pebruari 2004, Para Hakim di Panel-Panel
Khusus untuk Kejahatan Berat memvonis bersalah Lindo de Carvalho
atas pembunuhan sebagai sebuah Kejahatan terhadap Kemanusiaan. Mantan
komandan milisi Saka Loromonu di Batugade kabupaten Bobonaro telah
mengaku bersalah atas pembunuhan terhadap pendukung kemerdekaan
Sabino Pereira dari Maliana di desa Palaka kecamatan Balibo pada
tanggal 6 September 1999. Dengan mempertimbangkan pengakuan bersalahnya,
Panel
yang terdiri dari tiga hakim di Panel-Panel Khusus untuk Kejahatan
Berat menghukum Lino de Carvalho dengan 7 tahun penjara.
Persidangan Lino de Carvalho telah dimulai pada tanggal 19 Pebruari
2002 dan selanjutnya ditunda. Dengan keberangkatan salah satu Hakim
Panel Khusus dari Panel pertama, persidangannya dimulai lagi pada
tanggal 16 Pebruari 2004 dengan Panel Khusus para Hakim yang berbeda.
Pada tanggal 16 Pebruari 2004, Lino de Carvalho telah mengaku
bersalah atas satu tuntutan pembunuhan sebagai Kejahatan terhadap
Kemanusiaan sebagaimana telah dituntut di dalam surat dakwaan SCU
yang diajukan pada bulan Mei 2001. Surat dakwaan tersebut menuduh
bahwa para anggota milisi Saka Loromonu Batugade termasuk terdakwa
menculik Sabino Pereira dari Atambua di Timor Barat Indonesia dimana
dia telah lari pada bulan September 1999. Dituduh bahwa Pereira
dibawa ke markas besar milisi Saka
Loromonu di Batugade Timor Leste dimana dituduh bahwa dia dipukul
dengan parah dan komandan milisi Saka Loromonu Ruben Monteiro Goncalves
memerintahkan untuk membunuh Pereira. Pereira dibawa ke desa Palaka
dimana dia ditikam sampai mati oleh terdakwa dan para anggota milisi
lain. Korban kemudian dipenggal.
Dalam persetujuan pengakuan bersalah antara Penuntutan SCU dan
terdakwa dan Penasihat Hukumnya, Penuntutan SCU setuju untuk menarik
dua tuntutan tindakan yang tidak manusiawi sebagai Kejahatan terhadap
Kemanusiaan melawan terdakwa oleh karena pengakuan bersalahnya atas
tuntutan pembunuhan. Dalam surat dakwaan SCU terdakwa telah dituntut
dengan penculikan dan pemukulan terhadap para pendukung kemerdekaan
pada tanggal 14 April 1999 dan penculikan dan pemukulan terhadap
empat guru pada tanggal 7 Mei 1999 oleh militer Indonesia (TNI)
dan para anggota milisi termasuk terdakwa di markas besar Milisi
Firmi di Balibo di kabupaten Bobonaro.
Surat dakwaan SCU yang asli dari bulan Mei 2001 juga menuntut
mantan komandan milisi Saka Loromonu Ruben Monteiro Goncalves dan
Ruben Tavares dengan satu tuntutan pembunuhan sebagai Kejahatan
terhadap Kemanusiaan atas pembunuhan terhadap Sabino Pereira dan
tiga tuntutan tindakan yang tidak manusiawi sebagai Kejahatan terhadap
Kemanusiaan termasuk yang
telah diuraikan diatas. Para penyelidik SCU percaya bahwa kedua
terdakwa sedang tinggal di Atambua di Timor Barat Indonesia.
Dalam sebuah kasus SCU yang tidak terkait mengenai penculikan
dan penghilangan pendukung kemerdekaan Longuinhos da Silva de Jesus
di wilayah Hera Dili, Penuntutan SCU menarik tuntutan terhadap empat
terdakwa mantan anggota milisi Aitarak di sebuah hearing awal di
panel Khusus untuk Kejahatan Berat pada tanggal 12 Pebruari 2004.
Penuntutan SCU menarik tuntutan persekusi sebagai Kejahatan terhadap
Kemanusiaan melawan semua keempat terdakwa dengan alasan bahwa fakta-fakta
yang dituduh dalam surat dakwaan tidak memenuhi syarat-syarat yang
diperlukan untuk membuktikan sebuah tuntutan persekusi sebagai Kejahatan
terhadap Kemanusiaan.
Sebelum penarikan tuntutan melawan Domingos Amati, Antonio Maukasa,
Jorge Manuel Lopes dan Jose Lopes, keempat terdakwa telah didakwa
dengan persekusi sebagai Kejahatan terhadap Kemanusiaan atas penculikan
terhadap pendukung kemerdekaan Longuinhos da Silva de Jesus. Dituduh
bahwa korban dipukul oleh keempat laki-laki dan dibawa ke Kompleks
Rajawali Militer Indonesia (TNI) di wilayah Hera di Dili pada tanggal
1 Mei 1999.
Sementara tuntutan melawan empat terdakwa telah ditarik, sebuah
surat dakwaan melawan Mateus Carvalho, Komandan Kompi D Milisi Aitarak
diajukan kepada Panel Khusus untuk Kejahatan Berat pada tanggal
25 September 2003. Komandan milisi Aitarak Kompi D - Mateus de Carvalho
dituntut dengan banyak tuntutan Kejahatan terhadap Kemanusiaan termasuk
penculikan dan penghilangan terhadap Longuinos da Silva de Jesus
pada tanggal 1 Mei. Surat dakwaan menuduh bahwa korban dibawa dari
Pos Rajawali TNI Hera oleh Mateus de Carvalho dan bahwa mayat korban
ditemukan 3 hari kemudian di pantai Hera. Para penyelidik SCU percaya
bahwa Mateus de Carvalho masih bebas di Timor Barat, Indonesia.
Salah satu terdakwa dalam perkara yang telah ditarik, Domingos
Amati masih didakwa di dalam dua surat dakwaan SCU yang lain. Dalam
satu surat dakwaan, Amati dituntut bersama dengan Francisco Matos
atas pembunuhan terhadap Antonio Pinto Soares di wilayah Hera Dili
pada tanggal 5 September 1999. Hal ini mengikuti sebuah keputusan
Pengadilan Banding tahun 2003 yang membatalkan penolakan awal surat
dakwaan SCU pada tanggal 11 Juli 2003. Penerimaan kembali surat
dakwaan tersebut berarti bahwa Domingos Amati dan Francisco Matos
akan menghadapi persidangan di masa depan atas pembunuhan terhadap
Antonio Pinto Soares di Panel-Panel Khusus untuk Kejahatan Berat.
Dalam sebuah surat dakwaan lain Domingos Amati dituntut dengan
tujuh orang lain atas dua tuntutan Kejahatan terhadap Kemanusiaan,
termasuk tuduhan persekusi dengan cara penculikan, dan penyiksaan
terhadap Sebastiao Gusmao dan Thomas Ximenes di kompleks TNI di
Akanunu di kabupaten Dili pada tanggal 8 Mei 1999. Persidangan tersebut
dijadwalkan akan dimulai pada awal bulan Mei 2004 di Panel Khusus
untuk Kejahatan Berat.
Sejak persidangan dimulai di Panel-Panel Khusus untuk Kejahatan
Berat di Timor Leste pada tahun 2001, secara total 48 terdakwa telah
divonis bersalah dengan satu pembebasan. Panel-Panel Khusus untuk
Kejahatan Berat terdiri dari dua Hakim Internasional dan Satu Hakim
orang Timor. Pada saat ini 13 persidangan dengan secara total 31
terdakwa sedang diproses atau dijadwalkan akan dimulai di Panel-Panel
Khusus untuk Kejahatan Berat dalam bulan-bulan mendatang.
UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT MENGENAI SCU HUBUNGI scu@un.org